Monday, July 27, 2009

Bab 3 Menjejaki Para Wali Allah

Bismillahirrohmanirrohim...

Salam dan Selawat keatas junjungan besar Nabi saw , Ahlul bait as & ihrah yg suci lagi dikasihi, para2 sahabat ra. yang setia di dalam perjuangan. Rahmat Allah Swt. keatas pembaca yang kumuliakan sekelian semoga Allah Ta'ala memuliakan kita semua dan dimasukkan ke dalam golongan hamba2nya yang solehin. Amin. Amma Ba'du

Alhamdulillah dapat aku mengemaskini isi perbincangan menurut tajuk di atas, dan menambah beberapa info tambahan yang aku dapati, memandangkan sebelum ini aku tak berkesempat memperdalamkan perbincangan. Kita semua sudah maklum dan sudah masyur di Tanah Nusantara ini perihal kisah-kisah para Wali Allah seperti wali 9 di Tanah Jawa dan Wali 7 di Tanah Jawi.

Maka marilah kita sama-sama memahami dan mendalami apa maksud istilah Wali Allah itu secara menyeluruh agar tidak menyimpang dari petunjuk Al Quran dan Al hadis Nabi saw , athar dan pandangan ulamak yang mengupas tentangnya.

Apakah erti Wali Allah ? Siapakah mereka dan bagaimana ciri yang ada pada mereka.? Sebelum kita mendalami perbincangan ini marilah kita bincang maksud istilah wali sebagaimana yang diperjelaskan di dalam Al Quran Nur Karim dan beberapa takrif yang diberikan oleh para ulama terdahulu.


Istilah Wali di dalam Al-Quran

Aku telah menemui beberapa info yang menjelaskan maksud perkataan Wali di dalam Al-Quran yang menunjukkan beberapa maksud secara terperinci. Kalimat Wali atau Aulia' oleh al-Quran lebih dari 71 tempat dan memiliki arti yang berbeza-beza. Perbezaan itu menurut keadaan sesuatu penggunaan kata Wali itu sendiri.

Wali bermakna penolong, terdapat istilah "Waliyyiu Wala Naseer"seperti yang terdapat dalam ayat 107 surah Al-Baqarah di mana Allah berfirman: "Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? Dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong"

Wali beerti pelindung, terdapat istilah "Waliyyiyallah" dalam firmanNYA, "Sesungguhnya pelindungku ialah Allah Yang telah menurunkan Al Kitab (Al Quran) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh". (Surah Al-‘Araf: 196)

Beerti pelindung terdapat istilah "Maula" seperti firmanNYA "Yang demikian itu adalah kerana Allah itu adalah pelindung bagi orang-orang yang beriman, sedangkan orang-orang kafir tidak ada pelindung bagi mereka". ( Surah Muhammad: 11)

Wali beerti ma’bud, erdapat istilah "waliyyullazhina aamanu" yaitu yang disembah , seperti ayat 256-257 surah Al-Baqarah, Allah berfirman: "Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Allah Pelindung (terjemahan tafsir) orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya."

Wali bererti petunjuk dan pembimbing , terdapat istilah "Waliyyan Murshida" seperti dalam surah Al-Kahfi ayat ke 17 kita membaca: "Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya. "

Wali beerti dengan pemimpin dan pemilik ikhtiar; berikut ini beberapa contoh dari ayat-ayat tersebut:

a. Dalam surah Syura ayat 28 (Waliyyul Hamid) kita membaca: "Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji. " Wali dalam ayat ini adalah pemimpin dan pemilik ikhtiar. Akan tetapi wilayah di dalam ayat yang mulia tadi adalah wilayah takwiniyah atau hak cipta.

b. Dalam surah Al-Isyra’ ayat ke 33 (liwaliyyihi Sulthanaa) yang membahas tentang wilayah tasyri’iyah disebutkan: Dan barang siapa terbunuh secara zalim maka kami memberikan hak bagi wali dan pengurusnya." Wali dalam ayat ini berarti pemilik ikhtiar dan pengurus; karena hak Qishas untuk teman orang yang terbunuh tidak pernah disebutkan akan tetapi itu adalah hak waris dan wali.

c. Dalam ayat al-Quran yang terpanjang ayat ke 182 surah Al-Baqarah di mana berkaitan dengan penulisan sanad saat melakukan transaksi pinjam meminjam, kita membaca : "jika orang yang memiliki tanggungan tidak memiliki kemampuan untuk menulis dan mengimlak maka wali dan pengurusnya (sebagai) penggantinya dengan menjunjung tinggi keadilan hendaknya menulis dan mengimlak." Dalam ayat yang mulia ini wali tersebut dengan makna pemimpin dan pemilik ikhtiar.

d. Dalam ayat ke 34 surah Al-Anfal (In Auliyauhu) kita membaca: "Dan mereka yang mencegah hamba-hamba yang bertauhid untuk beribadah di Masjid Haram pada dasarnya mereka bukan pemimpin dan wali, wali mereka adalah orang-orang yang bertakwa." Wali dalam ayat ini juga berarti pemimpin jika tidak telah jelas orang-orang kafir dan musyrik tidak memiliki persahabatan dan posisi yang sakral semacam itu.

e. Dalam ayat ke 5 surah Maryam (Mawaliya) kita juga membaca: "Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap pewarisku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera."Dari sini juga jelas warisan setelah kematian berarti wali dan pemimpin dan pewaris harta-hartanya bukan hanya teman dan penolong saja.

Konklusinya kata ini dalam ayat-ayat al-Quran dalam berbagai arti telah digunakan; akan tetapi majoritas kata ini dipakai dalam arti pemimpin dan pemilik ikhtiar.

Terdapat lagi ayat di dalam Al Quran cukup jelas menerangkan kalimat Wali di mana Wali bagi orang-orang Islam hanyalah Allah Swt, Rasulullah dan sesama orang-orang yang beriman.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
, "Sesungguhnya Wali kamu hanyalah Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang yang beriman, yang mendirikan sembahyang, dan menunaikan zakat, sedang mereka rukuk (tunduk menjunjung perintah Allah). Dan sesiapa yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang yang beriman itu Walinya (maka berjayalah dia) kerana sesungguhnya golongan Allah, itulah yang tetap menang. [al-Maidah 5:55-56]

Dari semua penjelasan di atas dapat kita lihat bahawa Allah Swt. disebut al Wali, orang mukmin kekasih Allah disebut wali, seorang yang dewasa yang diberi tugas melindungi dan memelihara anak kecil juga disebut wali. Demikian juga orang yang lemah yang tidak dapat mengurus harta-bendanya sendiri, lalu dipelihara oleh keluarga yang lain, maka keluarga tersebut itu juga dipanggil wali. Penguasa pemerintah yang diberi tanggung jawab pemerintahan disebut wali. Ayah atau mahram yang berkuasa yang menikahkan anak perempuannya juga disebut wali.

Figure: Almarhum Tukku Paluh, salah seorang waliyullah tersohor di Tanah Jawi

Terdapat dua penjelasan tentang makna wali ini.
  • Penjelasan pertama, kata al-wali merupakan bentuk superlatif dari subyek (fa’il), seperti kata al-’alim bermakna yang sangat alim dan kata al-qadir bermakna yang sangat berkuasa. Maka kata al-wali bermakna orang yang sangat menjaga ketaatan kepada Allah tanpa tercederai oleh kemaksiatan atau memberi kesempatan pada dirinya untuk berbuat maksiat.
  • Penjelasan kedua, kata al-wali merupakan subjek bermakna objek, seperti kata al-qatil bermakna yang terbunuh dan al-jarih bermakna yang terluka. Maka kata al-wali bermakna orang yang dijaga dan dilindungi oleh Allah Swt, dijaga terus-menerus dari berbagai macam maksiat dan selamanya mendapat pertolongan Allah untuk selalu berbuat taat.
Dari segi etimologis, al-wali berarti yang dekat. Ketika seorang hamba dekat kepada Allah karena ketaatan dan keikhlasannya, maka Allah akan senantiasa dekat kepadanya, dengan limpahan rahmat, keutamaan, dan kebaikan, hingga mencapai jenjang al-wilayah (kewalian).

Keterangan-keterangan di atas adalah pandangan menurut dalil-dalil dari Al Quran dan pendapat-pendapat Salfussolehin berkenaan wali dan kewalian. Setelah kita lihat keterangan di atas jelaskan maksud istilah Wali itu secara lebih luas.

Perbincangan kita di sini adalah khusus kepada Wali sebagai kekasih Allah, penunjuk jalan kebenaran, pemimpin rohani mengikut kefahaman di dalam kitab-kitab tasawuf. Di dalam kitab lama yang aku lupa namanya pernah diberitahu oleh sahabat sepengajianku bahawa terdapat kata-kata berikut. "Lebih mudah kamu mengenal Allah swt daripada mengenal wali Allah"

Antara sebab2nya adalah kewalian itu rahsia bagi Allah dan anugerahNYA kepada seseorang hambaNYA. Sesiapa yang menjadi kekasih Allah sudah pasti tidak akan menceritakan kepada sesiapa pun. Terdapat wali2 Allah yang menutupi kewaliannya dengan mempamirkan sesuatu yang diluar penrimaan orang-orang awam akan kewaliannya. Terdapat juga para wali yang diketahui kewalian dan karamahnya selepas kematiannya.

Terdapat juga para wali yang memegang kekhalifahan dan diketahui umum dengan sebab ketinggian kedudukan kewaliannya , contohnya seperti Khulafa ar rasyidin, atau menjadi pemimpin rohani seperti Syeikh Abdul Qadir Jailani rahmatullah alaih dan lain-lainnya. Jadi kedudukan martabat kewalian seseorang itu berbeza-beza di sisi Allah.


Takrif Wali Allah dalam konteks Surah Yunus

Wali adalah perkataan mufrad (singular) , kata jamaknya (plural) adalah auliya'. Makna asal perkataan ini ada berbagai-bagai, di antaranya bermakna 'amat hampir'. Wali Allah maknanya orang yang benar-benar hampir dengan Allah SWT.

Orang ini ialah insan yang amat memahami dan mentaati perintah Allah dalam semua keadaan dan menjauhi larangan Allah dalam semua hal. Istilah wali berlawanan dengan istilah 'adaawah' yang beerti bermusuh.

Orang yang hampir kepada Allah dipanggil wali, orang yang bermusuh dengan Allah digelar 'aduu. Musuh Allah ialah orang yang melawan hukum, perintah dan menderhakai Allah sedangkan wali adalah orang yang paling taat kepada Allah.

Waliullah memang wujud dari dahulu hingga sekarang. Al-Quranul Karim, menyebut (mafhumnya):
"Ingatlah sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada ketakutan ke atas mereka dan tidak pula mereka itu berdukacita.

"Wali-wali Allah itu (adalah) orang yang sungguh-sungguh beriman kepada Allah dan mereka bertaqwa kepada Allah SWT. (Surah Yunus, ayat 62 dan 63 ).

Dalam tafsir yang muktabar seperi Tafsir al-Qurtubi dan Tafsir al-Maraaghi, ketika menghuraikan ayat ini menyebut bahawa wali-wali Allah adalah orang-orang yang ikhlas mematuhi perintah Allah dan berserah diri kepadanya, tanpa mensyirikkannya tanpa sesuatu apapun. Mereka mengasihi-Nya dengan sebenar-benar kasih dan mentaati-Nya dengan sepenuh ketaatan.

Ali bin Abi Talib (karammallahu wajhah), bersabit dengan ayat di atas menyebutkan, "Wali-wali Allah adalah orang yang kelihatan pucat-pucat muka mereka kerana banyak beribadat, mata-mata mereka kuyu dan layu kerana banyak berjaga malam untuk beribadah, perut-perut mereka cerut dan kempis kerana banyak berpuasa dan kurang makan." Itulah gambaran waliullah oleh Ali.

Merujuk kepada ayat ini, Umar bin al-Khattab (r.a) pernah berkata, "Saya pernah mendengar Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud, 'ada di antara manusia, adalah menjadi hamba-hamba-Nya yang sebenar. Mereka bukan para Nabi dan bukan juga para Syuhada, tetapi amat disegani oleh para Nabi dan Syuhada di hari Kiamat kerana makam mereka amat istimewa disisi Allah pada hari tersebut.

"Lalu ditanya kepada Rasulullah s.a.w siapakah mereka dan apa amalan mereka, semoga kami boleh mencontohi dan mengasihi mereka, lalu Rasulullah bersabda, 'mereka adalah kaum yang berkasih sayang kerana Allah, tanpa ada hubungan darah dan harta benda yang mengikat mereka, muka mereka bercahaya indah dalam kilauan cahaya dalam cahaya, mereka tidak takut ketika sekelian insan takut dengan azab Allah, mereka tidak berdukacita ketika insan sekelian berdukacita kerana takut kemurkaan Allah SWT." Lalu Nabi membaca dua-dua ayat dari Surah Yunus tadi.

Itulah gambaran waliullah yang disebut banyak kali oleh al-Quran. Dalam hadis yang sahih, Nabi pernah menyebut perkataan wali dengan jelas yang mafhumnya, "Barangsiapa yang memusuhi wali-wali aku, maka sesungguhnya dia mengisytiharkan perang dengan aku dan aku benarkan wali aku memerangi mereka. (Hadis Qudsi).

Waliullah, disemuapakati oleh ilmuan Islam yang terbilang, terdiri dari para Rasul (tanpa khilaf), kerana merekalah yang paling hampir kepada Allah, paling cinta dan mematuhi perintah Allah. Wailullah adalah orang yang makam mereka amat tinggi disisi Allah. Mereka disebut sebagai muqarrabuun.

Firman Allah (mafhumnya), " Dan orang-orang paling dahulu beriman, mereka yang paling dahulu masuk syurga. Mereka itulah yang paling tinggi makamnya (disisi Allah). Mereka di tempatkan di syurga-syurga yang penuh dengan kenikmatan. Dahulunya berbondong-bondong begitu ramah. Dan yang mutakhir ini amat berkurangan."
(Surah al-Waqiah ayat 10-14).

Maksud muqarrabuun adalah orang-orang yang berlumba-lumba melakukan kebaikan di atas perintah Allah SWT, mereka itulah auliya Allah. Mereka wujud dari dahulu hingga sekarang. Dahulunya ramai,. sekarang ini amat berkurangan.

Apa yang penting, waliullah adalah orang yang amat istimewa disisi Allah SWT.

Kisah Karamah Para Sahabat Rasulullah


Terdapat banyak kisah-kisah karamah Para sahabat, disini aku paparkan beberapa kisah karamah sahabt2 yang utama. Untuk mengetahui kisah-kisah karamah Para-para sahabt yang lain sila lawati site link yang aku rujuk di bawah ini.
Karamah Para Sahabat Rasulullah

Karamah Say Abu Bakar as siddiq ra

'Abdurrahman bin Abu Bakar r.a. menceritakan bahwa ayahnya datang bersama tiga orang tamu hendak pergi makan malam dengan Nabi Saw. Kemudian mereka datang setelah lewat malam. Istri Abu Bakar bertanya, "Apa yang bisa kau suguhkan untuk tamumu?" Abu Bakar balik bertanya, "Apa yang kau miliki untuk menjamu makan malam mereka?" Sang istri menjawab, 'Aku telah bersiap-siap menunggu engkau datang." Abu Bakar berkata, "Demi Allah, aku tidak akan bisa menjamu mereka selamanya." Abu Bakar mempersilakan para tamunya makan. Salah seorang tamunya berujar, "Demi Allah, setiap kami mengambil sesuap makanan, makanan itu menjadi bertambah banyak. Kami merasa kenyang, tetapi makanan itu malah menjadi lebih banyak dari sebelumnya."

Abu Bakar melihat makanan itu tetap seperti semula, bahkan jadi lebih banyak, lalu dia bertanya kepada istrinya, "Hai ukhti Bani Firas, apa yang terjadi?" Sang istri menjawab, "Mataku tidak salah melihat, makanan ini menjadi tiga kali lebih banyak dari sebelumnya." Abu Bakar menyantap makanan itu, lalu berkata, "Ini pasti ulah setan." Akhirnya Abu Bakar membawa makanan itu kepada Rasulullah Saw dan meletakkannya di hadapan beliau. Pada waktu itu, sedang ada pertemuan antara katun muslimin dan satu kaum. Mereka dibagi menjadi 12 kelompok, hanya Allah Yang Maha Tahu berapa jumlah keseluruhan hadirin. Beliau menyuruh mereka menikmati makanan itu, dan mereka semua menikmati makanan yang dibawa Abu Bakar. (HR Bukhari dan Muslim)

Karamah Say Umar Al Khatab ra

Dalam kitab Riyadh al-Shalihin, Imam Nawawi mengemukakan bahwa Abdullah bin `Umar r.a. berkata, "Setiap kali `Umar mengatakan sesuatu yang menurut prasangkaku begini, pasti prasangkanya itu yang benar."

Saya tidak mengemukakan riwayat dari Ibnu `Umar tersebut dalam kitab Hujjatullah 'ala al-'Alamin. Kisah tentang Sariyah dan sungai Nil yang sangat terkenal juga disebutkan dalam kitab Thabaqat al-Munawi al-Kubra. Dalam kitab tersebut juga dikemukakan karamah 'Umar yang lainnya yaitu ketika ada orang yang bercerita dusta kepadanya, lalu `Umar menyuruh orang itu diam. Orang itu bercerita lagi kepada `Umar, lalu Umar menyuruhnya diam. Kemudian orang itu berkata, "Setiap kali aku berdusta kepadamu, niscaya engkau menyuruhku diam."

Karamah Say Usman b. Affan ra

Ibnu `Umar r.a. menceritakan bahwa Jahjah al-Ghifari mendekati 'Utsman r.a. yang sedang berada di atas mimbar. Jahjah merebut tongkat 'Utsman, lalu mematahkannya. Belum lewat setahun, Allah menimpakan penyakit yang menggerogoti tangan Jahjah, hingga merenggut kematiannya. (Riwayat Al-Barudi dan Ibnu Sakan)

Dalam riwayat lain dikisahkan bahwa Jahjah al-Ghifari mendekati `Utsman yang sedang berkhutbah, merebut tongkat dari tangan `Utsman, dan meletakkan di atas lututnya, lalu mematahkannya. Orang-orang menjerit. Allah lalu menimpakan penyakit pada lutut Jahjah dan tidak sampai setahun ia meninggal. (Riwayat Ibnu Sakan dari Falih bin Sulaiman yang saya kemukakan dalam kitab Hujjatullah `ala al-Alamin)

Karamah Imam 'Ali b. Abu Tholib kw

Sid bin Musayyab menceritakan bahwa ia dan para sahabat menziarahi makam-makam di Madinah bersama `Ali. All lalu berseru, "Wahai para penghuni kubur, semoga dan rahmat dari Allah senantiasa tercurah kepada kalian, beritahukanlah keadaan kalian kepada kami atau kami akan memberitahukan keadaan kami kepada kalian." Lalu terdengar jawaban, "Semoga keselamatan, rahmat, dan berkah dari Allah senantiasa tercurah untukmu, wahai amirul mukminin. Kabarkan kepada kami tentang hal-hal yang terjadi setelah kami." All berkata, "Istri-istri kalian sudah menikah lagi, kekayaan kalian sudah dibagi, anak-anak kalian berkumpul dalam kelompok anak-anak yatim, bangunan-bangunan yang kalian dirikan sudah ditempati musuh-musuh kalian. Inilah kabar dari kami, lalu bagaimana kabar kalian?" Salah satu mayat menjawab, "Kain kafan telah koyak, rambut telah rontok, kulit mengelupas, biji mata terlepas di atas pipi, hidung mengalirkan darah dan nanah. Kami mendapatkan pahala atas kebaikan yang kami lakukan dan mendapatkan kerugian atas kewajiban yang yang kami tinggalkan. Kami bertanggung jawab atas perbuatan kami." (Riwayat Al-Baihagi)

Ibu Sebagai wakil dan wali Allah

Di akhir zaman ini adalah lagi semakin sukar untuk mengenal wali Allah. Walau bagaimana pun atas pandangan salah seorang guruku aku bukakan satu petunjuk siapakah wali bagi diri kamu itu. Bagi mereka yang masih mempunyai ibu dan ayah sesungguhnya masih berkesempatan buat mengenal siapa wali kamu. Bagi seorang muslimah ayah kamu itulah wali kamu yang paling hampir. Bagi seseorang muslim sesungguhnya ibu kamu itulah wali bagimu.

Perhatikan bagaimana kamu perlakukan terhadap ibumu, sebab ibumu yang mengetahui rahsia dirimu dan asal terjadinya kamu. Ibumu lah yang mula2 memegang amanah dirimu semasa kamu masih didalam kandungan rahimnya. Itulah alam asal tubuhmu di atas muka bumi ini. Dan itulah tempat permulaan pengembaraanmu ke alam basyariah. Itulah tempat permulaan ditiupkan ruhmu dan permulaan kamu bergerak dan diam. Permulaan di azankan kamu , permulaan solat menangisnya kamu, permulaan menerima rezeki di atas muka bumi alam insan . Apakah mungkin kamu menderhakai ibumu itu? Ibumu yang mula-mula menjadi guru zahirmu. Ibumu juga yang mula mengajar kamu tentang kasih sayang.

Figure: Syurga di bawah tapak kaki ibu, juga sebagai wakil Allah

Jangan kamu mencari wali yang kamu tidak kenal tanpa mengenali ibumu sebagai wali dan wakil Allah di atas muka bumi ini. " Wakafa billahiwakiila ..." Dan Cukuplah Allah sebagai wakil bagimu dan DIA telah melantik ibumu sebagai wakilNYA di alam insan. Ketahuilah rahsia kewalian ibumu. Jangan kamu menderhakai dan mengingkari akan hal ini. Kelak kamu akan tersesat dari jalan kembali.

Figure: Bayi yg dilahirkakn adalah suci seperti wali Allah

Setinggi2 martabat Nabi dan Rasul , setinggi martabat wali dan seluruh aulia mereka tetap meletakkan martabat seorang ibu melebihi martabat mereka sendiri. Allah tidak menjadikan wanita sebagai Nabi dan Rasul akan tetapi Allah sendiri telah meletakkan martabat seorang ibu dengan kedudukan yang sangat tinggi.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...